OPINI: Game Online Intai Pelajar, Ancaman Nyata Generasi Muda - Saksimata

Breaking

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

25/02/2026

OPINI: Game Online Intai Pelajar, Ancaman Nyata Generasi Muda

Oleh: Wahyudi HR
Pimpinan Perusahaan Redaksi Media Digital Saksimata.my.id


Fenomena game online bukan lagi sekadar hiburan digital bagi pelajar. Di balik layar gawai yang tampak sederhana, tersimpan sisi gelap yang perlahan menggerogoti masa depan generasi muda. Investigasi di lapangan menunjukkan bahwa kecanduan game online kini telah menjelma menjadi ancaman serius yang mengintai pelajar di berbagai jenjang pendidikan.

Data yang dihimpun dari sejumlah sekolah dan orang tua mengungkap pola yang mengkhawatirkan. Pelajar menghabiskan waktu 4 hingga 10 jam per hari untuk bermain game. Aktivitas belajar terganggu, interaksi sosial menurun, dan prestasi akademik merosot drastis. Lebih memprihatinkan lagi, sebagian pelajar mulai berani berbohong hingga mengambil uang tanpa izin demi membeli kuota internet atau item dalam permainan.

Game online dirancang dengan sistem yang membuat pemain terus kembali. Fitur hadiah harian, level bertahap, hingga skema pembelian dalam aplikasi (in-app purchase) menciptakan efek candu. Secara psikologis, sistem ini memicu pelepasan dopamin berlebihan yang membuat pemain sulit berhenti. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi mengganggu kesehatan mental dan kestabilan emosi pelajar.

Investigasi juga menemukan adanya praktik transaksi ilegal akun, perjudian terselubung dalam fitur “loot box”, hingga komunikasi bebas tanpa pengawasan yang membuka peluang perundungan siber dan eksploitasi anak. Tanpa kontrol orang tua dan pengawasan ketat, pelajar menjadi sasaran empuk ekosistem digital yang tidak sepenuhnya ramah anak.

Ironisnya, sebagian orang tua belum menyadari bahwa pembiaran terhadap penggunaan gawai tanpa batas adalah pintu masuk persoalan ini. Gawai kerap dijadikan “penenang” agar anak tidak rewel, tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang. Sekolah pun belum sepenuhnya memiliki mekanisme pengawasan digital yang komprehensif.

Permasalahan ini bukan semata-mata soal melarang game online. Ini tentang membangun literasi digital, kedisiplinan penggunaan teknologi, dan tanggung jawab bersama. Pemerintah perlu memperketat regulasi terkait konten dan sistem monetisasi game yang berpotensi merugikan anak. Sekolah harus aktif memberikan edukasi bahaya kecanduan digital. Orang tua wajib hadir, bukan hanya menyediakan fasilitas.

Jika dibiarkan, sisi gelap game online akan terus mengintai dan menggerus kualitas generasi muda kita. Pelajar yang seharusnya fokus membangun masa depan justru terjebak dalam dunia virtual tanpa batas.

Kita tidak sedang melawan teknologi. Kita sedang menyelamatkan generasi.

Post Top Ad