Santunan Kematian Disorot, Bantuan Minim Jadi Sorotan - Saksimata

Breaking

Post Top Ad

Post Top Ad

29/03/2026

Santunan Kematian Disorot, Bantuan Minim Jadi Sorotan

Pemerintah Kota Probolinggo kembali menggelar roadshow santunan kematian yang dipimpin Wali Kota Aminuddin bersama Wakil Wali Kota Ina Dwi Lestari, Jumat (27/3). Kegiatan yang diklaim sebagai bagian dari rangkaian satu tahun kinerja ini memunculkan pertanyaan publik terkait besaran bantuan dan dampak nyata bagi keluarga penerima.(29/03/26)

 


PROBOLINGGO, Saksimata.my.id - Pemerintah Kota Probolinggo kembali menggelar roadshow santunan kematian yang dipimpin Wali Kota Aminuddin bersama Wakil Wali Kota Ina Dwi Lestari, Jumat (27/3). Kegiatan yang diklaim sebagai bagian dari rangkaian satu tahun kinerja ini memunculkan pertanyaan publik terkait besaran bantuan dan dampak nyata bagi keluarga penerima.(29/03/26)

Kunjungan diawali di rumah almarhum Supriadi (42) di Jalan KH Ahmad Dahlan, Kelurahan Kebonsari Wetan. Dalam kesempatan tersebut, santunan sebesar Rp750 ribu diserahkan kepada istrinya, Devi (38), sekaligus penyerahan dokumen administrasi kependudukan.

Di tengah seremoni penyerahan bantuan, kondisi keluarga korban justru menggambarkan tekanan ekonomi yang berat. Devi mengungkapkan harus menghidupi tiga anak, termasuk dua balita, dengan usaha laundry sederhana yang hanya mengandalkan satu mesin cuci.

“Anak saya tiga, yang pertama segera masuk SMP, dua lainnya masih kecil. Kami hanya punya usaha laundry kecil. Harapannya ada bantuan untuk mengembangkan usaha,” ujarnya.

Menanggapi hal itu, wali kota menyampaikan dukungan moril serta menawarkan solusi berupa akses pendidikan melalui program Sekolah Rakyat dan peluang bantuan peralatan usaha. Pernyataan tersebut menegaskan adanya upaya intervensi, meski realisasi bantuan lanjutan masih menjadi tanda tanya.

Wali kota juga meminta keluarga untuk mengikhlaskan kepergian almarhum yang disebut meninggal akibat kejang dan pendarahan otak, sembari memastikan anak-anak tetap mendapatkan akses pendidikan.

Kehadiran kepala daerah di lokasi duka dinilai membuka ruang komunikasi langsung antara warga dan pemerintah. Namun, sejumlah pihak menilai pendekatan ini belum sepenuhnya menjawab kebutuhan jangka panjang keluarga terdampak, terutama dari sisi ekonomi.

Roadshow kemudian dilanjutkan ke kediaman Sutiah (81) di Jalan Cokroaminoto, Kelurahan Kebonsari Kulon, serta Suhartini (70) di Jalan Ikan Kerapu, Kelurahan Mangunharjo, dengan pola kegiatan serupa.

Program santunan kematian ini disebut sebagai bentuk kepedulian pemerintah daerah. Meski demikian, besaran bantuan yang relatif terbatas dibanding kebutuhan riil keluarga penerima memunculkan kritik bahwa program ini berpotensi lebih bersifat simbolis daripada solusi komprehensif bagi warga terdampak.

(Ma'at S)

Post Top Ad