![]() |
| Pemerintah Kabupaten Probolinggo menggelar apel gabungan memperingati tiga momentum sekaligus, yakni Hari Jadi Kabupaten Probolinggo (Harjakapro) ke-280, Hari Otonomi Daerah (Otoda) ke-30, dan Hari Kartini 2026 di halaman Kantor Bupati Probolinggo, Kamis (23/4/2026) pagi. |
PROBOLINGGO, Saksimata.my.id - Pemerintah Kabupaten Probolinggo menggelar apel gabungan memperingati tiga momentum sekaligus, yakni Hari Jadi Kabupaten Probolinggo (Harjakapro) ke-280, Hari Otonomi Daerah (Otoda) ke-30, dan Hari Kartini 2026 di halaman Kantor Bupati Probolinggo, Kamis (23/4/2026) pagi.
Apel dipimpin langsung Bupati Probolinggo dr. Mohammad Haris dan diikuti ratusan peserta dari berbagai unsur, mulai dari aparatur sipil negara, Dinas Perhubungan, Satpol PP, BPBD, organisasi kepemudaan, tenaga kesehatan hingga pelajar. Keterlibatan lintas sektor ini menjadi cerminan mobilisasi aparatur dalam kegiatan seremonial daerah.
Sejumlah pejabat turut ambil peran dalam pelaksanaan upacara, di antaranya Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan sebagai komandan upacara, staf Bagian Umum sebagai pembaca teks UUD 1945, serta iringan musik dari Gita Wibawa Praja Satpol PP. Prosesi juga melibatkan simbol daerah “Prasaja Ngesti Wibawa” yang diarak masuk ke lapangan sebagai representasi historis pemerintahan.
Tema yang diusung dalam Harjakapro ke-280 tahun ini adalah “Transformasi Berkelanjutan Menuju Probolinggo SAE”, yang diklaim selaras dengan semangat desentralisasi dalam peringatan Hari Otonomi Daerah ke-30. Namun, tidak ada pemaparan rinci mengenai indikator capaian transformasi tersebut dalam kegiatan apel.
Dalam amanatnya, Bupati Haris menekankan pentingnya peringatan ini tidak berhenti pada seremoni, melainkan menjadi refleksi terhadap peran perempuan dalam pembangunan. Ia menyoroti konsep “inner beauty” sebagai nilai utama perempuan, dengan menempatkan perempuan sebagai pilar pendidikan keluarga.
“Masa depan daerah ditentukan dari bagaimana perempuan mendidik generasi. Perempuan harus memposisikan diri sebagai Kartini masa depan,” ujarnya di hadapan peserta apel.
Pernyataan tersebut menegaskan narasi klasik peran domestik perempuan, meski tidak diiringi dengan penjabaran kebijakan konkret yang mendukung pemberdayaan perempuan di sektor publik maupun ekonomi.
Selain itu, Bupati Haris juga mengajak masyarakat untuk mengingat sejarah panjang Kabupaten Probolinggo, mulai dari fase konflik hingga perkembangan pemerintahan saat ini. Ia menilai refleksi sejarah penting sebagai pijakan pembangunan ke depan, meski tanpa mengungkap evaluasi kritis terhadap capaian pembangunan daerah.
Dalam kesempatan yang sama, masyarakat dan ASN didorong untuk meramaikan rangkaian kegiatan Harjakapro yang digelar selama 10 hari di Alun-alun Kraksaan. Agenda tersebut disebut sebagai upaya mendorong pergerakan UMKM dan memperkuat kebersamaan, namun belum dijelaskan dampak ekonomi riil dari kegiatan serupa sebelumnya.
Bupati Haris juga menyampaikan komitmennya untuk menuntaskan masa jabatan dengan pengabdian maksimal. Ia menegaskan kesiapan menghadapi tantangan pembangunan bersama masyarakat, tanpa merinci peta tantangan maupun strategi penyelesaiannya.
Apel peringatan ini diharapkan menjadi simbol penguatan kebersamaan dan refleksi sejarah. Namun demikian, efektivitasnya dalam mendorong perubahan nyata, khususnya dalam pemberdayaan perempuan dan pembangunan berkelanjutan, masih memerlukan pengawasan serta evaluasi publik secara berkelanjutan. (Ma'at S)
