PROBOLINGGO, Saksimata.my.id - Dewan Pengurus Daerah (DPD) Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Kabupaten Probolinggo resmi melepas 11 perawat untuk menunaikan ibadah haji 2026, termasuk yang akan bertugas sebagai Tenaga Kesehatan Haji Indonesia (TKHI) dan Tenaga Kesehatan Haji Daerah (TKHD). Pelepasan berlangsung di Kantor DPD PPNI setempat, Desa Karanggeger, Kecamatan Pajarakan, Rabu (8/4/2026), dengan penekanan pada kesiapan profesional dan tanggung jawab pelayanan kesehatan jemaah.
Kegiatan tersebut dihadiri sejumlah pejabat lintas sektor, mulai dari unsur Dinas Kesehatan, Kejaksaan Negeri, kepolisian, hingga tokoh organisasi keagamaan. Kehadiran mereka memperlihatkan kuatnya koordinasi antarlembaga dalam mendukung penyelenggaraan haji, terutama pada aspek layanan kesehatan yang kerap menjadi titik krusial di lapangan.
Dari total 11 perawat yang diberangkatkan, tiga di antaranya akan mengemban tugas sebagai TKHI, satu sebagai TKHD, sementara tujuh lainnya berangkat sebagai jemaah haji reguler. Komposisi ini menunjukkan keterlibatan langsung tenaga kesehatan daerah dalam sistem pelayanan haji nasional, yang menuntut kesiapan teknis sekaligus mental di tengah dinamika kondisi kesehatan jemaah di Tanah Suci.
Ketua DPD PPNI Kabupaten Probolinggo, Sugianto, menegaskan pelepasan ini bukan sekadar seremoni, melainkan bagian dari pembekalan strategis. Ia menyoroti pentingnya profesionalitas, respons cepat terhadap kendala, serta koordinasi tim sebagai faktor penentu keberhasilan pelayanan kesehatan haji. Menurutnya, perawat yang bertugas harus mampu menjaga standar layanan meski berada dalam tekanan situasi lapangan.
Selain itu, ia mengingatkan perawat yang berangkat sebagai jemaah reguler untuk tetap menjaga kondisi fisik dan saling membantu. Hal ini dinilai penting mengingat tingginya risiko kelelahan dan gangguan kesehatan selama rangkaian ibadah haji berlangsung.
Sementara itu, perwakilan Dinas Kesehatan Kabupaten Probolinggo menilai peran perawat sebagai tulang punggung layanan kesehatan tidak bisa diabaikan. Keterlibatan mereka dalam pelayanan haji disebut menjadi elemen vital dalam menjaga stabilitas kesehatan jemaah, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia dan penderita penyakit kronis.
Dalam sesi terpisah, tausiyah yang disampaikan tokoh ulama setempat menekankan pentingnya kesiapan spiritual dan doa sebagai penopang utama dalam menjalankan ibadah haji. Pesan tersebut menjadi penguat di tengah tuntutan tugas dan kondisi fisik yang tidak ringan.
Pelepasan ini sekaligus menjadi indikator kesiapan daerah dalam mendukung pelayanan kesehatan haji 2026. Namun demikian, efektivitas di lapangan tetap bergantung pada koordinasi lintas tim dan kemampuan adaptasi terhadap situasi darurat yang kerap muncul selama pelaksanaan ibadah haji. (Roby Dwi)
