Atlet Basket Masuk TNI, Apresiasi atau Privilege? - Saksimata

Breaking

Post Top Ad

Post Top Ad

06/04/2026

Atlet Basket Masuk TNI, Apresiasi atau Privilege?

Surliyadin, atlet basket SEA Games 2025 resmi diangkat menjadi perwira TNI AD. (Foto: Dok. Indonesia Basketball League)


JAKARTA, Sasimata.my.id - Surliyadin, atlet bola basket yang turut membawa tim nasional Indonesia meraih medali perunggu pada SEA Games 2025 di Thailand, resmi diangkat menjadi perwira TNI Angkatan Darat melalui program khusus yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto.

Berdasarkan keterangan dari Indonesia Basketball League, Senin (6/4), Surliyadin yang juga pemain klub RANS Simba Bogor menyebut program tersebut sebagai bentuk penghargaan negara terhadap atlet berprestasi di ajang internasional.

Program yang diikuti merupakan Program Khusus Perwira Karier (Proksus PAPK TNI AD), jalur rekrutmen yang diperuntukkan bagi atlet dengan kualifikasi minimal sarjana (S1). Skema ini memungkinkan atlet tetap berkarier di dunia olahraga sembari menjalankan tugas sebagai prajurit TNI.

“Informasi awal program ini cukup mendadak, khususnya untuk cabang bola basket. Kami sempat ragu karena belum ada contoh sebelumnya,” ujar Surliyadin.

Keraguan itu berangsur hilang setelah adanya kejelasan terkait fleksibilitas peran ganda sebagai atlet profesional dan anggota militer. Faktor tersebut menjadi pertimbangan utama dalam keputusannya mengikuti program.

Dari total 21 atlet lintas cabang olahraga yang mengikuti seleksi, perwakilan bola basket turut ambil bagian. Seluruh peserta diwajibkan melalui tahapan seleksi ketat, mulai dari pantukhir hingga pendidikan militer.

Proses pendidikan diawali di Akademi Militer Magelang, dilanjutkan di Kodiklat TNI AD Serpong, hingga akhirnya para peserta dilantik di Mabes TNI Cilangkap dengan pangkat Letnan Dua.

Kini, Surliyadin memikul dua peran sekaligus—sebagai atlet profesional dan perwira TNI—yang menuntut disiplin tinggi serta kemampuan manajemen waktu yang ketat.

“Menjaga kondisi fisik dan kesehatan menjadi kunci agar tetap bisa berprestasi di dua bidang tersebut,” katanya.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak yang mendukung, termasuk Presiden, Panglima TNI, hingga pengurus PP Perbasi dan klubnya.

Dari sudut pandang investigatif, program ini memunculkan pertanyaan publik terkait mekanisme seleksi dan transparansi rekrutmen jalur khusus tersebut. Di satu sisi, negara memberikan apresiasi kepada atlet berprestasi, namun di sisi lain muncul kekhawatiran soal potensi ketimpangan akses dibanding jalur rekrutmen reguler.

Tanpa keterbukaan parameter penilaian dan evaluasi jangka panjang, program ini berpotensi dipersepsikan sebagai bentuk privilege, bukan semata penghargaan berbasis prestasi.

Ke depan, publik menanti konsistensi kebijakan serta akuntabilitas pelaksanaan program agar tidak hanya menjadi simbol apresiasi, tetapi juga mencerminkan prinsip meritokrasi di tubuh TNI. (Red)

Post Top Ad