![]() |
| Kegiatan gowes sejauh 10 kilometer yang diikuti Wali Kota Probolinggo Dokter Aminuddin bersama sejumlah pejabat justru membuka sejumlah temuan di lapangan, mulai dari kondisi infrastruktur jalan hingga potensi konflik pemanfaatan lahan. Agenda yang dikemas santai itu berlangsung Minggu (05/04/26), namun memunculkan catatan penting terkait pembangunan daerah. |
PROBOLINGGO, Sasimata.my.id - Kegiatan gowes sejauh 10 kilometer yang diikuti Wali Kota Probolinggo Dokter Aminuddin bersama sejumlah pejabat justru membuka sejumlah temuan di lapangan, mulai dari kondisi infrastruktur jalan hingga potensi konflik pemanfaatan lahan. Agenda yang dikemas santai itu berlangsung Minggu (05/04/26), namun memunculkan catatan penting terkait pembangunan daerah.
Rombongan memulai perjalanan dari Rumah Jabatan Wali Kota di Jalan Panglima Sudirman, melintasi sejumlah ruas utama seperti Jalan Soekarno Hatta, Jalan Brantas, Jalan Bengawan Solo, hingga Jalan Karang Tengah, sebelum berakhir di kediaman anggota Komisi II DPRD Kota Probolinggo, Masda Putri Amelia, di Kelurahan Pakistaji, Kecamatan Wonoasih.
Di tengah perjalanan, rombongan sempat berhenti di Jalan Bengawan Solo. Wali kota mengakui penghentian dilakukan karena adanya peserta yang tertinggal akibat medan menanjak, mengindikasikan rute yang dilalui tidak sepenuhnya ramah bagi seluruh peserta.
Sorotan utama muncul saat rombongan melintasi Jalan Karang Tengah. Kondisi jalan makadam di tengah hamparan persawahan memperlihatkan masih terbatasnya akses infrastruktur di kawasan tersebut. Wali kota secara langsung meninjau lokasi yang direncanakan sebagai jalur pembangunan jalan lintas, namun mengungkap adanya kendala serius terkait koordinasi dengan pihak perkebunan.
“Kita sekalian pantau lokasi rencana pembangunan jalan lintas. Namun masih terkendala koordinasi dengan pihak perkebunan terkait pemanfaatan lahan,” ujarnya, mengisyaratkan adanya potensi tarik-menarik kepentingan dalam proyek tersebut.
Di sisi lain, kegiatan ini juga diwarnai interaksi dengan masyarakat yang menyambut rombongan sepanjang rute. Namun, perhatian publik tidak hanya tertuju pada seremoni, melainkan juga pada kondisi riil infrastruktur yang dilalui.
Setibanya di lokasi akhir, kegiatan dilanjutkan dengan senam bersama dan ramah tamah dalam suasana Syawal. Anggota DPRD Masda Putri Amelia menyebut kegiatan ini sebagai ajang silaturahmi sekaligus halal bihalal, meski di balik itu tersimpan agenda pemantauan wilayah oleh kepala daerah.
Peninjauan juga dilakukan di peternakan ayam petelur milik keluarga Masda yang memiliki sekitar 1.500 ekor ayam. Selain itu, usaha distribusi bawang merah berskala besar ke luar pulau turut menjadi perhatian, sebagai bagian dari potensi ekonomi lokal yang diklaim mendukung ketahanan pangan.
Meski dikemas sebagai kegiatan olahraga dan silaturahmi, gowes tersebut secara tidak langsung menyingkap persoalan mendasar, mulai dari kualitas jalan hingga hambatan koordinasi lahan yang masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah daerah. (Ma'at S)
