Kerapan Sapi Tempuran, Tradisi atau Ajang Bisnis? - Saksimata

Breaking

Post Top Ad

Post Top Ad

05/04/2026

Kerapan Sapi Tempuran, Tradisi atau Ajang Bisnis?

Gelaran Kerapan Sapi kembali digelar di Lapangan Desa Tempuran, Kecamatan Bantaran, Kabupaten Probolinggo, Sabtu hingga Minggu (4-5/4/2026). Di balik kemeriahan tradisi tahunan ini, muncul sorotan terkait kepentingan ekonomi dan jaringan bisnis yang ikut bermain dalam ajang budaya tersebut.


PROBOLINGGO, Saksimata.my.id - Gelaran Kerapan Sapi kembali digelar di Lapangan Desa Tempuran, Kecamatan Bantaran, Kabupaten Probolinggo, Sabtu hingga Minggu (4-5/4/2026). Di balik kemeriahan tradisi tahunan ini, muncul sorotan terkait kepentingan ekonomi dan jaringan bisnis yang ikut bermain dalam ajang budaya tersebut.

Sebanyak 144 pasangan sapi berlaga dalam tiga kategori—besar, tanggung, dan kecil—dengan total hadiah mencapai Rp50 juta. Event ini menjadi bagian dari peringatan Hari Jadi Kabupaten Probolinggo (Harjakabpro) ke-280, sekaligus agenda rutin tahunan yang disebut-sebut mampu menggerakkan ekonomi lokal.

Kegiatan ini juga terhubung dengan rangkaian menuju perhelatan HUT Gagak Rimang Team (GRT) di Bangkalan, Madura. Keterlibatan donatur utama dari luar daerah, yakni H. Tohir, memperlihatkan adanya jejaring lintas wilayah dalam industri kerapan sapi yang tak sekadar berbasis budaya.

Koordinator acara, Imam, menyatakan kegiatan ini sebagai bentuk pelestarian budaya sekaligus ajang silaturahmi. Namun, belum ada transparansi terkait pengelolaan dana, sponsor, maupun distribusi manfaat ekonomi secara merata bagi masyarakat sekitar.

“Ini bukan sekadar hiburan, tapi komitmen menjaga tradisi,” ujarnya.

Imam juga mengapresiasi peran donatur dan sponsor, yang dinilai menjadi penopang utama terselenggaranya acara. Meski demikian, ketergantungan terhadap pendanaan eksternal memunculkan pertanyaan soal kemandirian komunitas lokal dalam mengelola event budaya.

Ketua Pakarsakera Pusat, H. Tohir, secara terbuka menyatakan keterlibatannya dalam mendukung kerapan sapi di Probolinggo, termasuk aktivitas pembelian sapi berkualitas dari daerah tersebut. Pernyataan ini mengindikasikan adanya potensi rantai bisnis ternak yang terhubung langsung dengan event budaya.

“Saya juga banyak membeli sapi dari Probolinggo,” ungkapnya.

Di sisi lain, Camat Bantaran, Junaedi, menilai kegiatan ini memiliki nilai strategis dari aspek budaya dan ekonomi. Ia menyebut dampaknya dirasakan oleh pelaku UMKM, pedagang, hingga sektor pariwisata lokal.

Namun demikian, belum ada data konkret terkait peningkatan pendapatan masyarakat atau indikator ekonomi yang dapat mengukur secara pasti dampak kegiatan tersebut. Klaim penguatan ekonomi lokal masih sebatas pernyataan normatif tanpa dukungan angka yang terverifikasi.

Junaedi juga menegaskan Bantaran sebagai salah satu pusat kerapan sapi di Probolinggo, dengan slogan “Banter” yang menggambarkan kecepatan dan semangat. Tingginya antusiasme peserta dan penonton disebut sebagai bukti kuat eksistensi tradisi ini.

Meski demikian, di tengah euforia, muncul pertanyaan mendasar: apakah kerapan sapi masih murni sebagai warisan budaya, atau telah bergeser menjadi ajang ekonomi dan jejaring bisnis berkedok tradisi.

(Ma'at S)

Post Top Ad