Latihan Haji Probolinggo, Efektif atau Seremonial? - Saksimata

Breaking

Post Top Ad

Post Top Ad

05/04/2026

Latihan Haji Probolinggo, Efektif atau Seremonial?



PROBOLINGGO, Saksimata.my.id - Pemerintah Kota Probolinggo menggelar kegiatan Napak Tilas Armuzna yang dikemas dengan jalan sehat, halalbihalal, dan doa bersama bagi calon jemaah haji 1447 H/2026 M di halaman Kantor Pemkot, Kamis (2/4/2026). Kegiatan ini disebut sebagai bagian pembinaan, namun efektivitasnya dalam mengukur kesiapan riil jemaah mulai disorot.

Kegiatan dilepas Wakil Wali Kota Ina Dwi Lestari, dengan rute dari Jalan Panglima Sudirman menuju Jalan Suroyo hingga berakhir di Masjid Agung Raudlatul Jannah. Agenda ini diklaim sebagai simulasi fisik perjalanan Armuzna, khususnya rute Mina ke Jamarat.

Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kota Probolinggo, Didik Heriadi, menyebut kegiatan ini sebagai latihan penting untuk membiasakan jemaah menghadapi jarak tempuh hingga 7 kilometer. Namun, tidak dijelaskan standar evaluasi apakah simulasi tersebut benar-benar merepresentasikan kondisi ekstrem di Tanah Suci.

“Ini memberikan gambaran perjalanan Armuzna, terutama dari Mina ke Jamarat. Jemaah perlu kesiapan fisik,” ujarnya.

Didik juga menegaskan pembinaan telah dilakukan melalui manasik, kajian Ramadan, hingga tilawatil Quran. Meski demikian, integrasi antara pembinaan fisik dan spiritual tersebut belum diuraikan secara terukur dalam indikator keberhasilan.

Wakil Wali Kota Ina Dwi Lestari mengingatkan pentingnya menjaga kebugaran dengan rutin berjalan kaki minimal 30 menit setiap hari. Ia mengakui bahwa kondisi di lapangan haji jauh lebih berat dibanding simulasi yang dilakukan di daerah.

“Rute hari ini belum sebanding dengan kondisi di Makkah dan Armuzna,” katanya.

Sementara itu, Wali Kota Probolinggo Dokter Aminuddin memastikan pihaknya terus memantau kesiapan 310 calon jemaah haji, khususnya dari sisi kesehatan. Dinas Kesehatan diminta melakukan pengawasan intensif guna mengantisipasi gangguan kesehatan sebelum keberangkatan.

“Kami minta pemantauan kesehatan dilakukan serius agar tidak mengganggu ibadah,” tegasnya.

Ia juga memastikan keberangkatan tetap sesuai rencana tanpa tambahan biaya, meski di tengah dinamika global. Pemerintah daerah disebut terus berkoordinasi agar jemaah dapat diberangkatkan dalam satu kloter.

Di sisi lain, peserta mengakui kegiatan ini memberi manfaat awal meski belum sepenuhnya mencerminkan kondisi riil. Halimah (60), warga Sukabumi, menyebut kegiatan tersebut sebagai latihan fisik setelah penantian panjang selama 14 tahun.

“Capek, tapi ini jadi latihan sebelum berangkat,” ujarnya.

Petugas haji daerah, Firman, menegaskan bahwa kesiapan fisik tetap menjadi faktor krusial. Ia mengingatkan jemaah menjaga kesehatan dan membawa obat-obatan pribadi guna menghindari kendala selama ibadah.

Minimnya indikator evaluasi dan pengukuran kesiapan jemaah dalam kegiatan ini memunculkan pertanyaan, apakah pembinaan yang dilakukan sudah cukup komprehensif atau masih sebatas agenda seremonial tahunan.

(Ma'at S)

Post Top Ad