![]() |
| Pemerintah Kota Probolinggo meresmikan Pondok Pesantren Tarbiyatul Ulumuddin di Jalan Slamet Riyadi Gang Bima, Senin (13/4), di tengah dorongan peningkatan kualitas sumber daya manusia berbasis keagamaan. Peresmian oleh Wali Kota Probolinggo |
PROBOLINGGO, Sasimata.my.id - Pemerintah Kota Probolinggo meresmikan Pondok Pesantren Tarbiyatul Ulumuddin di Jalan Slamet Riyadi Gang Bima, Senin (13/4), di tengah dorongan peningkatan kualitas sumber daya manusia berbasis keagamaan. Peresmian oleh Wali Kota Probolinggo, Dokter Aminuddin, diklaim sebagai tonggak baru pendidikan religius yang mandiri, terutama karena pengelolaan anggaran disebut berasal dari non-APBD. Namun, transparansi dan mekanisme penghimpunan dana swadaya tersebut belum dijelaskan secara rinci ke publik.
Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kota Probolinggo periode 2021–2026, Aries Budi Wijayanto, menyebut pendirian ponpes ini sebagai bentuk komitmen mencetak generasi berakhlak dan berilmu. Ia menekankan fungsi ganda lembaga tersebut sebagai pusat pendidikan agama sekaligus pembinaan karakter. Meski demikian, belum ada pemaparan terbuka terkait kurikulum terintegrasi maupun standar mutu pendidikan yang akan diterapkan.
Ponpes Tarbiyatul Ulumuddin yang dilengkapi fasilitas Raudhatul Athfal saat ini menampung sekitar 40 santri dan santriwati. Klaim telah melahirkan banyak alumni juga disampaikan, tetapi data kuantitatif dan capaian alumninya tidak diungkapkan secara detail. Ke depan, pengelola menargetkan pengembangan kapasitas dan kontribusi lebih luas terhadap dunia pendidikan di Kota Probolinggo.
Dalam sambutannya, Dokter Aminuddin menyatakan keberadaan ponpes ini sejalan dengan program pemerintah dalam meningkatkan kualitas SDM berbasis keagamaan. Ia bahkan menyebut ponpes berpotensi berkembang menjadi model boarding school. Pernyataan tersebut memunculkan pertanyaan lanjutan terkait kesiapan infrastruktur, tenaga pengajar, serta standar pendidikan yang akan diadopsi untuk mencapai level tersebut.
Selain itu, wali kota juga menyoroti pentingnya peningkatan keilmuan dengan membandingkan kemajuan bangsa Eropa yang dinilai konsisten mengembangkan ilmu pengetahuan. Namun, belum dijelaskan langkah konkret pemerintah daerah dalam mendukung integrasi pendidikan agama dengan sains dan teknologi di lingkungan ponpes.
Peresmian Pondok Pesantren Tarbiyatul Ulumuddin diharapkan menjadi titik awal penguatan pendidikan religius di daerah. Meski demikian, publik menanti komitmen nyata terkait akuntabilitas pengelolaan, transparansi pendanaan, serta kualitas output pendidikan agar tidak berhenti pada seremoni semata. (Ma'at S)
