Festival Ketapang: Panggung Budaya atau Pencitraan Ekonomi? - Saksimata

Breaking

Post Top Ad

Post Top Ad

13/04/2026

Festival Ketapang: Panggung Budaya atau Pencitraan Ekonomi?



PROBOLINGGO, Sasimata.my.id - Ketapang Night Culture Festival 2026 Season 2 kembali digelar di Kelurahan Ketapang, Sabtu (11/4) malam, dengan kemasan spektakuler penuh cahaya dan atraksi seni. Namun di balik kemeriahan itu, muncul pertanyaan mengenai sejauh mana dampak riil festival ini terhadap penguatan ekonomi dan pelestarian budaya lokal.

Acara yang dihadiri Wali Kota Probolinggo Dokter Aminuddin bersama Ketua TP PKK Dokter Evariani tersebut dibuka dengan pawai warga dari Kelurahan Ketapang menuju panggung utama di Jalan Argopuro, Perum Kopian. Antusiasme masyarakat terlihat tinggi, namun kegiatan ini dinilai masih bersifat seremonial tanpa indikator terukur terkait manfaat jangka panjang.

Di panggung utama, berbagai penampilan tari dan busana kreasi warga RW 1 hingga RW 5 dipertontonkan sebagai simbol eksistensi budaya lokal. Meski demikian, sejumlah pengamat menilai kreativitas yang ditampilkan masih membutuhkan pembinaan berkelanjutan agar tidak berhenti pada euforia tahunan semata.

Dalam sambutannya, Wali Kota menegaskan komitmen pelestarian budaya dan penguatan identitas daerah. Ia juga menyebut keberhasilan festival sebagai hasil kolaborasi lintas sektor. Namun, pernyataan tersebut belum diikuti dengan data konkret terkait peningkatan sektor pariwisata atau kontribusi signifikan terhadap pendapatan daerah.

Di sisi lain, geliat ekonomi lokal memang terlihat melalui ramainya stan UMKM yang diserbu pengunjung. Produk makanan, minuman, hingga sembako murah laris terjual. Meski demikian, belum ada transparansi data mengenai total perputaran uang maupun keberlanjutan dampak ekonomi pasca acara.

Efek berantai yang disebut-sebut turut dirasakan pedagang kaki lima, jasa parkir, dan pelaku ekonomi informal lainnya, masih bersifat asumsi lapangan tanpa kajian resmi. Kondisi ini memunculkan kebutuhan evaluasi menyeluruh agar festival tidak sekadar menjadi agenda rutin tanpa arah strategis yang jelas.

Lurah Ketapang Gunawarman Tri Pambudhi menyatakan festival ini sebagai upaya revitalisasi budaya sekaligus sarana edukasi masyarakat. Ia juga menekankan peran kegiatan pokmas dalam pemberdayaan ekonomi. Namun, efektivitas program tersebut dalam meningkatkan kesejahteraan warga secara berkelanjutan masih perlu diuji.

Dengan kemasan meriah dan partisipasi luas masyarakat, Ketapang Night Culture Festival 2026 Season 2 memang menunjukkan potensi besar. Namun tanpa perencanaan berbasis data dan evaluasi mendalam, festival ini berisiko menjadi sekadar panggung tahunan tanpa dampak signifikan bagi pembangunan budaya dan ekonomi lokal. (Robi)

Post Top Ad