SURABAYA, Saksimata.my.id - Kegiatan sosialisasi parkir digital di Jalan Manyar Kertoarjo V, Surabaya, berubah ricuh dan berujung kekerasan. Pimpinan sebuah gerakan masyarakat menjadi korban pengeroyokan serta pelemparan batu saat berada di lokasi, Selasa (7/4) siang.
Korban mengalami luka robek di bagian belakang kepala sebelah kiri serta pembengkakan akibat lemparan benda keras. Peristiwa tersebut langsung dilaporkan ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polrestabes Surabaya pada hari yang sama.
Berdasarkan keterangan korban, insiden bermula saat dirinya menerima informasi terkait adanya sosialisasi parkir digital yang digelar oleh Dinas Perhubungan bersama aparat kepolisian. Situasi di lapangan disebut sudah memanas akibat penolakan dari sejumlah pihak yang diduga merupakan juru parkir.
“Saya datang untuk memberi dukungan agar kegiatan tetap berjalan. Ini bentuk keberpihakan kepada penataan kota,” ujar korban saat ditemui di rumah sakit, tanpa menyebutkan detail pihak yang terlibat.
Namun situasi berubah saat korban hendak meninggalkan lokasi. Sejumlah orang yang berada di sekitar titik kegiatan diduga melontarkan cacian dan provokasi. “Ada kata-kata kasar yang saya klarifikasi di tempat. Setelah itu situasi makin tidak terkendali,” ungkapnya.
Dari sudut pandang aparat, kondisi massa yang semakin bertambah membuat pengamanan menjadi tidak optimal. Seorang sumber internal menyebutkan dorongan massa sulit dikendalikan dalam waktu singkat. “Kondisi lapangan dinamis, ada tekanan dari berbagai pihak yang memicu gesekan,” ujarnya.
Korban menyebut dirinya sempat didorong, dipukul, hingga dilempari batu dari arah belakang. Luka terbuka di kepala menjadi bukti kekerasan yang terjadi di tengah kegiatan resmi pemerintah tersebut. Selain itu, korban juga mengaku mengalami tendangan saat berusaha menyelamatkan diri.
Dari perspektif pengamat sosial, insiden ini menunjukkan lemahnya mitigasi konflik dalam kebijakan publik yang menyentuh kepentingan ekonomi kelompok tertentu. “Sosialisasi tanpa pendekatan persuasif dan pengamanan yang matang berpotensi memicu benturan horizontal,” ujarnya.
Hingga kini, pelaku pengeroyokan belum teridentifikasi secara jelas. Korban mengaku tidak dapat memastikan individu yang melakukan pelemparan karena posisi serangan berasal dari belakang. Meski demikian, laporan resmi telah diajukan dan proses visum telah dilakukan sebagai bagian dari penyelidikan.
Korban menegaskan menyerahkan sepenuhnya penanganan kasus kepada aparat penegak hukum serta menolak segala bentuk aksi balasan. Ia juga meminta agar proses hukum berjalan transparan dan menyentuh seluruh pihak yang terlibat dalam insiden tersebut.
(ANR)
