
Pemerintah Kota Bontang, Kalimantan Timur, membuka peluang investasi besar-besaran di sektor maritim dengan mendorong pengembangan industri manufaktur pengalengan ikan..
BONTANG, Saksimata.my.id - Pemerintah Kota Bontang membuka peluang investasi di sektor industri pengalengan ikan dengan menawarkan berbagai kemudahan bagi investor yang ingin menanamkan modal di wilayah tersebut. Langkah ini dilakukan untuk mendorong hilirisasi hasil perikanan sekaligus memanfaatkan potensi sumber daya laut yang melimpah di perairan Selat Makassar.
Wakil Wali Kota Bontang Agus Haris menyatakan pemerintah daerah siap memberikan dukungan penuh kepada calon investor, baik domestik maupun mancanegara, yang berminat mengembangkan industri manufaktur berbasis perikanan di Kota Bontang.
Menurut Agus Haris, sektor pengalengan ikan dinilai memiliki prospek menjanjikan karena ditopang ketersediaan bahan baku yang berkelanjutan serta dukungan infrastruktur dan regulasi yang telah disiapkan pemerintah daerah.
Hasil kajian Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Kalimantan Timur bersama DPMPTSP Kota Bontang menunjukkan sedikitnya empat faktor strategis yang menjadikan Bontang sebagai salah satu daerah potensial untuk pengembangan industri pengalengan ikan. Faktor tersebut meliputi ketersediaan bahan baku laut sepanjang tahun, keberadaan fasilitas Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI), kesiapan tata ruang kawasan industri, serta regulasi yang mendukung iklim investasi.
Data pemerintah daerah mencatat luas wilayah Kota Bontang mencapai 497,57 kilometer persegi dengan dominasi kawasan perairan yang berbatasan langsung dengan Selat Makassar. Kondisi geografis tersebut menjadikan sektor perikanan sebagai salah satu tulang punggung ekonomi masyarakat pesisir.
Produksi perikanan tangkap di Bontang tercatat mencapai 20.335,99 ton yang melibatkan 3.181 rumah tangga perikanan. Sementara produksi perikanan budidaya mencapai 4.453,04 ton dengan keterlibatan 351 rumah tangga pembudidaya ikan dan rumput laut. Komoditas utama yang mendominasi hasil tangkapan nelayan antara lain ikan cakalang, tongkol, dan tuna.
Studi kelayakan yang disusun pemerintah juga menunjukkan prospek ekonomi yang dinilai menguntungkan bagi investor. Dalam kajian tersebut, proyek industri pengalengan ikan cakalang diproyeksikan menghasilkan nilai Net Present Value (NPV) sebesar Rp3,33 miliar pada tahun kelima dengan Internal Rate of Return (IRR) mencapai 56,01 persen.
Selain itu, nilai Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) tercatat sebesar 1,6 dengan estimasi pengembalian modal dalam waktu 4 tahun 4 bulan 9 hari. Titik impas usaha diperkirakan tercapai pada produksi 549.653 unit kaleng atau saat memperoleh pendapatan sekitar Rp5,49 miliar per tahun.
Untuk memperkuat daya tarik investasi, Pemerintah Kota Bontang mengandalkan Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2017 tentang Pemberian Insentif dan Kemudahan Penanaman Modal. Regulasi tersebut menjadi dasar pemberian berbagai kemudahan perizinan dan insentif bagi sektor prioritas, termasuk perikanan, ketahanan pangan, dan pertanian.
Kebijakan ini menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah mempercepat hilirisasi hasil laut agar tidak hanya dipasarkan dalam bentuk bahan mentah, tetapi juga diolah menjadi produk bernilai tambah yang mampu bersaing di pasar nasional maupun internasional.
(Red)