
KRI Wahidin Sudirohusodo-991 saat pertama kali dilepas dari Jakarta menuju Pasifik dalam rangka misi port visit, pada 2024 lalu.
JAKARTA, Saksimata.my.id - Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) kembali menyiapkan pengiriman armada kapal perang dalam misi diplomasi maritim ke kawasan Pasifik dan Oseania. Pelayaran muhibah atau port visit yang direncanakan berlangsung pada 2026 tersebut menjadi misi ketiga yang dijalankan Indonesia sebagai bagian dari penguatan hubungan bilateral dan regional di kawasan Pasifik.
Upaya pematangan misi dilakukan melalui rapat koordinasi lintas kementerian dan lembaga yang digelar di atas KRI Wahidin Sudirohusodo-991 saat bersandar di Surabaya, Jawa Timur, Rabu (3/6). Pertemuan tersebut dipimpin Deputi Bidang Koordinasi Politik Luar Negeri Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Kemenko Polkam), Mohammad K. Koba.
Rapat membahas kesiapan operasional sekaligus strategi peningkatan keterlibatan diplomasi Indonesia di kawasan Pasifik sepanjang tahun 2026. Sejumlah instansi terkait hadir dalam forum tersebut untuk menyinkronkan dukungan terhadap pelaksanaan misi luar negeri yang melibatkan unsur pertahanan dan diplomasi sipil.
Asisten Operasi Pangkoarmada II Kolonel Laut (P) I Gede Putu Iwan turut mengikuti pembahasan guna memastikan kesiapan teknis KRI Wahidin Sudirohusodo-991 sebelum diberangkatkan. Kapal bantu rumah sakit tersebut diproyeksikan kembali menjadi ujung tombak diplomasi kemanusiaan Indonesia di kawasan Pasifik.
Data pelaksanaan sebelumnya menunjukkan KRI Wahidin Sudirohusodo-991 telah dua kali menjalankan misi ke Pasifik Selatan. Pada Oktober 2024, kapal tersebut melakukan pelayaran ke Kepulauan Solomon, Fiji, Vanuatu, dan Papua Nugini. Selanjutnya pada September 2025, kapal itu berlayar bersama KRI RE Martadinata-331 menuju Papua Nugini dalam rangka memperkuat hubungan kerja sama antarnegara.
Pemerintah menilai keberhasilan dua pelayaran terdahulu menjadi dasar untuk melanjutkan pendekatan diplomasi lunak (soft power diplomacy) melalui kegiatan sosial, pelayanan kesehatan, dan kerja sama kemanusiaan di negara-negara tujuan.
“Port visit merupakan instrumen diplomasi strategis yang tidak hanya memperkuat hubungan antarnegara, tetapi juga memperluas pengaruh positif Indonesia di kawasan melalui pendekatan damai, konstruktif, dan berorientasi pada manfaat nyata,” ujar Mohammad K. Koba sebagaimana dikutip dari keterangan resmi Humas Kemenko Polkam RI, Kamis (4/6).
Selain memperkuat hubungan antarpemerintah, misi tersebut juga diarahkan untuk membangun hubungan langsung antarmasyarakat (people-to-people contact). Berbagai kegiatan sosial dan layanan kesehatan disebut akan kembali menjadi bagian dari agenda saat kapal bersandar di negara-negara tujuan.
Pemerintah juga menegaskan komitmennya dalam mendukung pembangunan dan stabilitas kawasan Pasifik melalui berbagai program kerja sama, termasuk mekanisme dana hibah yang telah berjalan. Langkah tersebut sejalan dengan kebijakan Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali yang mendorong optimalisasi diplomasi angkatan laut sebagai instrumen hubungan internasional Indonesia.
“Kehadiran unsur TNI AL secara damai merupakan bagian dari diplomasi maritim Indonesia. Langkah ini menegaskan komitmen Indonesia untuk membangun kepercayaan, memperkuat persahabatan, dan menjaga stabilitas kawasan,” kata Koba.
Dalam rapat tersebut, Direktur Pasifik dan Oseania Kementerian Luar Negeri Andi Dzulfuad bersama Komandan Satuan Tugas (Satgas) Port Visit 2026 Kolonel Laut (P) Edi Herdiana turut memaparkan perkembangan kesiapan teknis dan rencana pelaksanaan misi.
Kemenko Polkam menekankan bahwa keberhasilan pelayaran diplomasi ke kawasan Pasifik membutuhkan koordinasi dan integrasi kerja yang kuat antarinstansi. Sinergi tersebut dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga efektivitas pelaksanaan misi sekaligus memperkuat posisi diplomasi Indonesia di kawasan strategis tersebut.
“Kesuksesan misi besar ini sangat bergantung pada integrasi kerja yang solid di antara kita,” tegas Koba.
(Red)