Pondokkelor Dominasi Lomba Perpustakaan Desa 2026 - Saksimata

Breaking

Post Top Ad

Post Top Ad

23/06/2026

Pondokkelor Dominasi Lomba Perpustakaan Desa 2026


 


PROBOLINGGO, Saksimata.my.id - Perpustakaan “Pondokkelor Pintar” Desa Pondokelor, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, resmi keluar sebagai Juara 1 dalam ajang Lomba Perpustakaan Desa dan Kelurahan Terbaik Tahun 2026 yang diselenggarakan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Kabupaten Probolinggo. (22/06/26).

Pengumuman pemenang disampaikan dalam agenda resmi yang berlangsung di Ruang Pertemuan Jabung 1 Kantor Bupati Probolinggo, Senin (22/6/2026), dengan menghadirkan jajaran dewan juri, Kepala Dispersip Kabupaten Probolinggo Ulfiningtyas, serta seluruh finalis peserta lomba tingkat desa dan kelurahan.

Dalam hasil penilaian akhir, posisi Juara 2 diraih Perpustakaan “Aqila” Desa Krejengan Kecamatan Krejengan. Sementara Juara 3 ditempati Perpustakaan “Jendela Dunia” Desa Tegalsiwalan Kecamatan Tegalsiwalan. Untuk kategori Harapan 1 diraih Perpustakaan “Alas Tengah” Desa Alas Tengah Kecamatan Paiton, sedangkan Harapan 2 diberikan kepada Perpustakaan “Harapan Bangsa” Desa Bulujaran Lor Kecamatan Tegalsiwalan.

Panitia menetapkan penilaian berdasarkan delapan indikator utama, yakni kualitas koleksi buku, sarana dan prasarana, sistem pelayanan perpustakaan, kapasitas tenaga pengelola, penyelenggaraan administrasi, manajemen perpustakaan, inovasi program literasi, hingga dampak nyata terhadap masyarakat.

Kepala Dispersip Kabupaten Probolinggo, Ulfiningtyas, menyampaikan apresiasi terhadap 11 desa yang berhasil mengikuti seluruh tahapan kompetisi. Menurutnya, partisipasi tersebut menunjukkan adanya keseriusan pemerintah desa dalam memperkuat budaya literasi di tengah berbagai keterbatasan fasilitas dan sumber daya.

Dari total 325 desa dan 5 kelurahan di Kabupaten Probolinggo, hanya 11 desa yang dinyatakan mampu memenuhi seluruh tahapan seleksi. Kondisi ini menjadi indikator bahwa penguatan perpustakaan desa masih memerlukan perhatian serius agar akses literasi masyarakat dapat merata.

Ulfiningtyas menegaskan seluruh peserta telah melalui proses seleksi dan evaluasi yang cukup ketat. Menurutnya, keikutsertaan desa dalam lomba ini merupakan bentuk komitmen nyata dalam membangun perpustakaan desa sebagai pusat pengembangan pengetahuan masyarakat.

Ia juga mengungkapkan penyelenggaraan lomba tahun 2026 mendapat dukungan anggaran dari pemerintah pusat melalui Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, sehingga program pembinaan perpustakaan desa dapat berjalan berkelanjutan.

Pihak Dispersip berharap program serupa terus dilaksanakan secara rutin setiap tahun dengan melibatkan pemerintah kecamatan agar pembinaan terhadap perpustakaan desa berlangsung lebih maksimal dan terstruktur.

Menurutnya, kecamatan memiliki peran strategis sebagai penghubung pembinaan langsung kepada desa-desa agar kualitas pengelolaan perpustakaan terus meningkat secara konsisten dari tahun ke tahun.

Lebih lanjut, Dispersip menilai seluruh peserta sejatinya telah memenangkan proses pembelajaran karena berhasil melakukan inovasi, pengembangan tata kelola, serta meningkatkan pelayanan literasi di wilayah masing-masing.

Meski demikian, lima desa yang masuk nominasi terbaik diminta tidak cepat berpuas diri. Pengelola perpustakaan didorong terus melakukan inovasi agar keberadaan perpustakaan desa tidak berhenti sebatas pencapaian lomba, melainkan benar-benar memberi manfaat langsung bagi masyarakat.

Bagi peserta yang belum meraih juara, pemerintah daerah meminta tetap menjaga semangat pengembangan perpustakaan. Penilaian keberhasilan, menurut Dispersip, tidak semata ditentukan trofi penghargaan, tetapi dari sejauh mana perpustakaan mampu hidup, berkembang dan menjadi pusat edukasi warga.

Dispersip Kabupaten Probolinggo memastikan pembinaan serta monitoring terhadap perpustakaan desa akan terus dilakukan secara berkala, termasuk melakukan evaluasi lapangan terhadap desa-desa yang telah meraih prestasi agar kualitas layanan yang sudah dibangun tetap terjaga.

Komitmen keberlanjutan program dinilai menjadi faktor utama agar pembangunan budaya literasi desa tidak berhenti pada seremoni perlombaan, melainkan menjadi sistem pendidikan masyarakat yang berjalan berkesinambungan di seluruh wilayah Kabupaten Probolinggo.

(Fahrul Moza)

Post Top Ad