Bupati Haris Jelajahi Tiris, Trek Kabut dan Danau Vulkanik

JALAN KAKI: Bupati Probolinggo dr. Mohammad Haris melakukan susur sungai dalam kegiatan fun trekking antardanau di Kecamatan Tiris. (Istimewa)

PROBOLINGGO, Saksimata.my.id – Kabupaten Probolinggo masih menyimpan potensi wisata pegunungan yang belum banyak tersentuh. Salah satunya kawasan Tiris. Rabu (7/1), Bupati Probolinggo Mohammad Haris menjajal langsung jalur alam Tiris yang diselimuti kabut tipis, menyusuri danau vulkanik dan medan basah khas pegunungan.

Bukan sekadar kunjungan simbolik, Haris memilih berjalan kaki menempuh jalur fun trekking sepanjang sekitar enam kilometer yang menghubungkan Ranu Merah dan Ranu Argo. Bersama OPD, pegiat wisata alam, komunitas jip, serta anggota DPRD Jatim Mahdi, ia merasakan langsung trek menantang di ketinggian.

Lintasan yang dilalui memadukan hiking ringan, trail run, susur sungai berair jernih, tanjakan terjal, hingga jalur cross country yang menguji stamina. Rombongan beberapa kali berhenti, bukan karena lelah, melainkan terpukau oleh air terjun kecil tersembunyi dan lanskap danau yang muncul tiba-tiba di balik rimbun vegetasi.

“Kalau hanya melihat foto, orang tahu ini indah. Tapi berjalan langsung memberi pengalaman yang sama sekali berbeda,” ujar Haris.

Di sepanjang perjalanan, interaksi dengan warga lokal berlangsung alami. Sapaan sederhana dan obrolan ringan tentang cuaca hingga harapan pengembangan wisata menjadi bagian dari perjalanan tanpa jarak dan tanpa seremoni.

Bagi Haris, trekking ini adalah cara membaca potensi riil kawasan. Kecamatan Tiris memiliki tujuh danau vulkanik, namun baru dua yang mulai ditata secara bertahap.

“Fokus kami bukan membangun besar-besaran, tapi membangun yang tepat,” tegasnya.

Pemkab Probolinggo, lanjut Haris, telah membenahi infrastruktur dasar seperti akses jalan dan paving menuju Ranu Merah, didukung mitra CSR. Tujuannya memastikan wisatawan datang dengan aman tanpa mengorbankan kelestarian alam.

Ia menilai konsep wisata minat khusus seperti trekking antardanau lebih relevan dibanding wisata massal. Jarak antardanau yang berdekatan dan kondisi alam yang masih perawan menjadi keunggulan utama Tiris.

Namun satu hal ditekankan: ekowisata adalah harga mati.

“Kami tidak ingin alam rusak karena wisata. Justru wisata harus menjadi alasan kita menjaga alam,” ujarnya.

Pendekatan turun langsung ini diapresiasi anggota DPRD Jatim Mahdi. Menurutnya, kebijakan pariwisata akan lebih tepat sasaran jika kepala daerah melihat langsung kondisi lapangan.

Menjelang malam, kabut kembali turun. Ranu Merah berubah wajah di bawah cahaya senja. Rombongan mendirikan tenda di tepi danau, menyalakan api unggun kecil, dan bermalam bersama.

Di tengah dingin dan sunyi Tiris, Haris menutup hari dengan refleksi sederhana.

“Tidur di sini mengingatkan kenapa tempat seperti ini harus dijaga,” ucapnya.

Tiris bukan sekadar destinasi, melainkan pengalaman—tentang alam yang memberi, manusia yang merawat, dan perjalanan yang menyatukan keduanya.(Red)

Alt/Text Gambar
Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak