Pelatihan Listrik Rutan Kraksaan Disorot Soal Dampak Nyata - Saksimata

Breaking

Post Top Ad

Post Top Ad

02/03/2026

Pelatihan Listrik Rutan Kraksaan Disorot Soal Dampak Nyata

 




PROBOLINGGO, Saksimata.my.id - Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kraksaan menggelar pelatihan rangkaian listrik bagi warga binaan pada Senin (2/3/2026). Program yang diklaim sebagai bagian dari pembinaan kemandirian ini dilaksanakan di Ruang Humas Rutan, namun efektivitas dan keberlanjutannya memunculkan pertanyaan terkait sejauh mana pelatihan benar-benar memberi dampak setelah peserta bebas nanti.

Pelatihan berlangsung di bawah pendampingan petugas dengan alasan keamanan dan pengawasan praktik. Meski demikian, belum ada penjelasan terbuka mengenai standar kurikulum, sertifikasi keterampilan, maupun kerja sama dengan lembaga teknis yang dapat menjamin kompetensi peserta diakui di dunia kerja.

Kepala Rutan Kraksaan, Galih Setiyo Nugroho, menyatakan kegiatan tersebut merupakan langkah strategis meningkatkan kualitas pembinaan warga binaan. Ia menegaskan pembinaan tidak hanya menitikberatkan aspek mental dan spiritual, tetapi juga keterampilan praktis sebagai bekal setelah menjalani masa pidana.

Namun, pernyataan tersebut belum disertai data terukur mengenai tingkat keberhasilan program serupa sebelumnya, seperti berapa banyak alumni pelatihan yang benar-benar terserap di lapangan kerja atau mampu membuka usaha mandiri.

Kepala Sub Seksi Pelayanan Tahanan, Yasin Zaini, menyebut keterampilan dasar kelistrikan memiliki peluang luas di masyarakat. Ia berharap kemampuan merangkai dan memahami instalasi listrik sederhana dapat menjadi kompetensi aplikatif dan bernilai ekonomis bagi warga binaan.

Di sisi lain, pengamat pembinaan narapidana menilai pelatihan teknis di lingkungan rutan sering kali berhenti pada tahap pengenalan tanpa kesinambungan, terutama jika tidak dibarengi akses permodalan, sertifikasi resmi, dan jejaring kerja setelah bebas.

Sejumlah peserta mengaku pelatihan memberi pengalaman baru, tetapi masih membutuhkan jam praktik lebih panjang serta peralatan yang memadai agar kemampuan mereka tidak sebatas teori. Transparansi anggaran, kualitas instruktur, serta evaluasi hasil pelatihan juga dinilai penting untuk memastikan program tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial.

Program pembinaan kemandirian ini disebut sejalan dengan komitmen pemasyarakatan dalam menciptakan warga binaan produktif. Namun tanpa indikator keberhasilan yang jelas, pengawasan publik menjadi krusial agar pelatihan benar-benar berfungsi sebagai sarana reintegrasi sosial, bukan hanya agenda rutin administratif. (Ma'at S)

Post Top Ad