![]() |
| Satgas Pamtas RI-PNG Statis Yonif 753/AVT Pos Suminka melaksanakan perjalanan patroli patok MM 6.2A yang merupakan titik perbatasan antara Indonesia dengan Papua Nugini di wilayah Pegunungan Bintang, Papua Pegunungan. (Foto: Dok. Penyonif 753 AVT) |
PEGUNUNGAN BINTANG, Saksimata.my.id - Prajurit TNI dari Satgas Pamtas RI–PNG Statis Yonif 753/AVT Pos Suminka kembali melaksanakan patroli patok menuju titik MM 6.2A, yang menjadi salah satu penanda batas wilayah antara Indonesia dan Papua Nugini di kawasan Papua Pegunungan.
Di bawah pimpinan Shofiyan, patroli tipe A tersebut menempuh jarak sekitar 7 kilometer dengan melintasi medan berat yang didominasi hutan lebat, semak belukar, rawa, hingga aliran sungai. Seluruh rangkaian kegiatan, termasuk perjalanan kembali ke pos, diselesaikan dalam satu hari.
Dalam keterangannya, Shofiyan menyebut medan ekstrem dan cuaca tidak menentu menjadi tantangan utama dalam pelaksanaan patroli.
“Medan berat dan cuaca ekstrem bukan penghalang. Ini soal menjaga kedaulatan NKRI,” ujarnya.
Ia menambahkan, patroli tersebut tidak hanya berfungsi memastikan keutuhan batas wilayah, tetapi juga untuk mendeteksi potensi pelanggaran hukum di kawasan hutan perbatasan, serta memberikan rasa aman bagi masyarakat sekitar.
Namun dari sudut pandang investigatif, kegiatan patroli patok yang dilakukan secara berkala ini memunculkan sejumlah pertanyaan terkait efektivitas pengawasan di wilayah perbatasan yang luas dan sulit dijangkau. Dengan jarak patroli yang terbatas dan durasi yang relatif singkat, potensi celah pengawasan di titik-titik lain masih menjadi perhatian.
Selain itu, minimnya informasi terbuka terkait dukungan teknologi, logistik, serta sistem pemantauan berkelanjutan menimbulkan keraguan apakah patroli manual semata cukup untuk menjawab kompleksitas ancaman di wilayah perbatasan RI–PNG.
Kondisi geografis yang ekstrem memang menjadi tantangan klasik. Namun tanpa penguatan sistem pengawasan terintegrasi, patroli semacam ini berisiko hanya menjadi rutinitas simbolik yang sulit menjangkau keseluruhan wilayah rawan.
Di sisi lain, dedikasi prajurit di lapangan tetap menjadi faktor penting dalam menjaga eksistensi negara di wilayah terluar. Publik kini menanti langkah konkret untuk memastikan bahwa patroli tidak hanya bersifat seremonial, tetapi benar-benar efektif dalam menjaga kedaulatan dan keamanan perbatasan. (Red)
