Surabaya Jadikan Game Jembatan Guru-Siswa

Delegasi pemenang MLBB Goes to School dan Teacher Ambassador (TA) asal Surabaya hadir di Arena M7 World Championship, Jakarta. Foto: ESI Jatim

SURABAYA, Saksimata.my.idKota Surabaya mengambil langkah progresif dalam pendidikan digital dengan menjadikan gim sebagai sarana belajar bersama antara guru dan siswa. Pendekatan ini tercermin dari kehadiran delegasi pemenang MLBB Goes to School dan Teacher Ambassador (TA) asal Surabaya di Arena M7 World Championship, Jakarta.

Program tersebut menegaskan bahwa gim tidak selalu identik dengan dampak negatif. Di Surabaya, Mobile Legends: Bang Bang (MLBB) justru menjadi ruang dialog baru yang mempertemukan guru dan siswa dalam satu bahasa digital.

“Tujuan kami bukan mencetak atlet esports, tetapi menanamkan nilai kehidupan. Anak-anak belajar menerima kekalahan, bekerja sama, dan merayakan kemenangan tanpa berlebihan. Itu soft skill penting yang tidak selalu diajarkan di kelas,” ujar Erina Tan, Kepala Bidang Pengembangan Ekosistem Gim Moonton Games.

Dalam skema ini, guru memegang peran kunci. Para pendidik dibekali pemahaman bahwa gim dapat menjadi media pendampingan, bukan sekadar hiburan. Melalui prinsip Pray, Respect, Peace Out (DTS), siswa dibiasakan berdoa sebelum bermain, saling menghormati, dan menjauhi perilaku toksik di ruang digital.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya, Febrina Kusumawati, menegaskan pendampingan jauh lebih efektif daripada larangan.

“Handphone sudah menjadi bagian hidup anak. Mereka tidak cukup hanya dilarang, tapi harus didampingi. Tanpa pendampingan, hasilnya justru negatif,” tegasnya.

Menurutnya, MLBB menjadi pintu masuk bagi guru untuk memahami dunia siswa, sekaligus mengarahkan penggunaan gawai secara sehat dan bertanggung jawab.

“Moonton tidak sekadar mengajarkan cara bermain, tetapi membawa edukasi. Di dalam gim ada pembelajaran emosi dan kerja sama yang bisa dimanfaatkan guru,” tambah Febrina.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Jawa Timur, M. Hadi Wawan Guntoro, menilai program ini menjaga keseimbangan antara kewajiban akademik dan minat siswa.

“Pesannya jelas: belajar dulu, baru mabar. Pendidikan tetap prioritas, tapi anak juga punya ruang menyalurkan minat dan belajar kerja tim lewat gim,” ujarnya.

Ia menambahkan, kehadiran langsung di ajang M7 World Championship memberi inspirasi nyata bahwa hobi yang dikelola dengan disiplin dan pendampingan dapat berkembang menjadi prestasi kelas dunia. (Red)

Alt/Text Gambar
Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak