Bali Dikepung Banjir, Infrastruktur Pariwisata Dipertanyakan - Saksimata

Breaking

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

24/02/2026

Bali Dikepung Banjir, Infrastruktur Pariwisata Dipertanyakan

Foto ilustrasi Bali Dikepung Banjir, Infrastruktur Pariwisata Dipertanyakan


BADUNG Bali, Saksimata.my.id – Deretan koper beroda terseret pelan menembus arus cokelat setinggi betis. Para tamu hotel, sebagian menggulung celana, sebagian lagi melepas alas kaki, berjuang menerobos genangan di ruas jalan kawasan wisata Legian, Kuta, Selasa (24/2/2026). Hujan lebat yang mengguyur Bali sejak 22 Februari memicu banjir di sedikitnya 26 titik, terutama di wilayah Denpasar dan Kabupaten Badung.

Di jantung destinasi wisata internasional, air tak lagi sekadar menggenang—ia melumpuhkan akses, menutup sebagian ruas jalan, dan memperlihatkan rapuhnya sistem drainase di kawasan yang selama ini menjadi etalase pariwisata Indonesia.

Seorang wisatawan asal Australia, Mark T., mengaku terkejut melihat kondisi tersebut. “Saya tidak menyangka jalan utama di kawasan hotel bisa seperti ini. Kami harus check-out sambil menerobos banjir,” ujarnya. Beberapa tamu tampak meminta bantuan staf hotel untuk mengangkat barang agar tidak terendam.

Dari sudut pandang pelaku usaha, situasi ini bukan hanya soal genangan, tetapi juga citra. Seorang manajer hotel di Legian yang enggan disebutkan namanya mengatakan pihaknya menerima sejumlah pembatalan pemesanan. “Tamu khawatir akses bandara terganggu. Kami harus bekerja ekstra memastikan keselamatan dan kenyamanan mereka,” katanya.

Data sementara dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bali mencatat 26 titik banjir tersebar di Denpasar dan Badung. Intensitas hujan tinggi disertai angin kencang menyebabkan saluran air meluap. Selain merendam jalan utama di Legian dan Kuta, genangan juga terjadi di beberapa kawasan permukiman.

Kepala Pelaksana BPBD Bali dalam keterangan tertulis menyebutkan bahwa hujan ekstrem dipicu oleh peningkatan aktivitas atmosfer regional. “Curah hujan tercatat tinggi dalam tiga hari terakhir. Tim kami telah melakukan penyedotan dan pembersihan saluran yang tersumbat,” ujarnya.

Sementara itu, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Badung menyatakan tengah melakukan evaluasi sistem drainase di kawasan pariwisata. “Kami identifikasi adanya sedimentasi dan penyempitan saluran. Normalisasi akan dipercepat,” kata perwakilan PUPR Badung.

Namun di lapangan, sejumlah warga mempertanyakan efektivitas upaya tersebut. Made S., warga Kuta, menilai banjir di kawasan wisata bukan persoalan baru. “Setiap hujan deras, pasti begini. Saluran sering tersumbat sampah dan pembangunan makin padat,” katanya.

Pengamat tata kota dari Universitas Udayana, Dr. I Ketut Arya, menilai banjir berulang di pusat pariwisata menunjukkan persoalan tata ruang yang belum tuntas. “Alih fungsi lahan dan peningkatan bangunan tanpa diimbangi kapasitas drainase memperbesar limpasan air. Ini bukan sekadar faktor cuaca, tetapi juga manajemen kawasan,” ujarnya.

Dari perspektif pemerintah provinsi, Sekretaris Daerah Bali menegaskan bahwa koordinasi lintas kabupaten/kota telah dilakukan. “Kami mendorong percepatan perbaikan drainase dan penguatan sistem peringatan dini. Pariwisata adalah sektor vital, sehingga mitigasi bencana harus menjadi prioritas,” katanya.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah III Denpasar sebelumnya telah mengeluarkan peringatan dini terkait potensi hujan lebat dan angin kencang hingga akhir Februari. BMKG mengimbau masyarakat dan pelaku usaha pariwisata meningkatkan kewaspadaan terhadap genangan dan pohon tumbang.

Hingga Selasa sore, genangan di sejumlah titik mulai surut, namun aktivitas lalu lintas masih tersendat. Di tengah koper-koper yang basah dan sepatu yang terendam, pertanyaan publik mengemuka: mengapa kawasan premium pariwisata masih rentan lumpuh oleh hujan tiga hari?

Banjir kali ini bukan hanya tentang air yang meluap, melainkan tentang ujian serius bagi ketahanan infrastruktur Bali—pulau yang selama ini dipromosikan sebagai destinasi kelas dunia.(Red)

Post Top Ad