![]() |
| Masjid Jamik Sumenep di jantung Kota Sumenep, Madura, menjadi bukti kuat akulturasi budaya Tionghoa dan Madura yang telah terjalin sejak abad ke-18. |
SUMENEP, Saksimata.my.id – Masjid Jamik Sumenep di jantung Kota Sumenep, Madura, menjadi bukti kuat akulturasi budaya Tionghoa dan Madura yang telah terjalin sejak abad ke-18. Masjid yang dibangun pada 1779–1787 itu dirancang arsitek keturunan Tionghoa, Lauw Piango, dan hingga kini dinilai sebagai simbol harmonisasi lintas etnis dan agama.
Guru Besar Sosiologi Politik Islam UIN Madura Mohammad Ali Humaidi menyebut penerimaan Raja Sumenep terhadap desain masjid menunjukkan relasi Tionghoa dan masyarakat Muslim Madura berjalan tanpa konflik. Arsitektur masjid memadukan unsur lokal dan Tionghoa secara seimbang tanpa ada dominasi corak tertentu.
Pengamat arsitektur Freddy Istanto menilai Masjid Jamik Sumenep merepresentasikan keseimbangan budaya. Unsur arsitektur luar berpadu dengan kearifan lokal Madura, menciptakan identitas unik yang bertahan hingga kini.
Sejarah mencatat etnis Tionghoa datang ke Sumenep sekitar 1740 saat Geger Pecinan di pesisir utara Jawa. Mereka mencari perlindungan dan masuk melalui Pelabuhan Dungkek, lalu menyebar ke sejumlah wilayah seperti Batang-Batang, Gapura, hingga Pasongsongan.
Budayawan D. Zawawi Imron menyebut Raja Sumenep R. Asiruddin atau Panembahan Sumolo memberi ruang dan kepercayaan kepada etnis Tionghoa, termasuk menunjuk Lauw Piango membangun Keraton Sumenep dan Masjid Jamik. Kepercayaan itu lahir dari rekam jejak dan kualitas karya arsitektur yang terbukti kokoh hingga kini.
Akulturasi juga tampak dari tumbuhnya komunitas Tionghoa Muslim di Sumenep, terutama di Dungkek dan sekitarnya. Generasi seperti Fandi dan Herman Susanto mengaku telah menyatu dengan masyarakat Madura, aktif dalam kegiatan keagamaan, dan tidak merasakan diskriminasi.
Meski sebagian tradisi Tionghoa seperti Imlek dan Cap Go Meh mulai memudar di kalangan generasi muda, nilai toleransi tetap terjaga. Perayaan dilakukan sebatas penghormatan kepada keluarga non-Muslim.
Masjid Jamik Sumenep kini bukan hanya pusat ibadah, tetapi juga penanda sejarah panjang toleransi dan harmoni budaya di Madura yang terus diwariskan lintas generasi. (Red)
