Tiga Kebiasaan Sepele Picu Gagal Ginjal Muda - Saksimata

Breaking

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

11/03/2026

Tiga Kebiasaan Sepele Picu Gagal Ginjal Muda

Ilustrasi ginjal.


SURABAYA, Saksimara.my.id - Gagal ginjal kini tidak lagi identik dengan kelompok usia lanjut. Dalam beberapa tahun terakhir, tren pasien usia muda yang harus menjalani hemodialisis atau cuci darah terus meningkat. Fenomena ini memunculkan kekhawatiran di kalangan tenaga medis karena sebagian besar pemicunya berasal dari penyakit dan kebiasaan sehari-hari yang sebenarnya dapat dicegah sejak dini.

Data medis menunjukkan lonjakan kasus tersebut tidak lepas dari pola hidup masyarakat modern yang cenderung tinggi gula, garam, serta kurang memperhatikan kesehatan tubuh. Kondisi ini membuat fungsi ginjal menurun secara perlahan hingga akhirnya tidak mampu lagi menyaring limbah dan cairan dari dalam darah.

Dokter spesialis urologi konsultan dari Siloam Hospitals Asri, Prof Dr dr Nur Rasyid, SpU(K), mengungkapkan tiga faktor utama yang paling dominan memicu gagal ginjal di Indonesia, yakni diabetes, infeksi, dan hipertensi.

“Bahwa orang gagal ginjal itu di Indonesia itu 29 persen diabetes, 20 persen infeksi, dan 19 persen hipertensi,” kata Prof Nur, seperti dilansir dari detikHealth, Selasa (17/2/2026).

Angka tersebut menunjukkan bahwa diabetes menjadi penyebab terbesar, disusul infeksi dan hipertensi. Ketiga faktor tersebut tidak hanya menyerang kelompok usia tua, tetapi juga semakin sering ditemukan pada usia produktif.

Kebiasaan Sehari-hari yang Mengancam Ginjal
Menurut Prof Nur, ada sejumlah kebiasaan yang sering dianggap sepele namun berpotensi mempercepat kerusakan ginjal jika dilakukan terus-menerus.

Pertama, konsumsi garam berlebihan. Pola makan tinggi garam dapat memicu hipertensi atau tekanan darah tinggi. Jika tidak dikendalikan, tekanan darah yang terus meningkat akan merusak pembuluh darah halus pada ginjal sehingga fungsi penyaringannya menurun secara bertahap.

“Biar nggak hipertensi, jangan banyak makan garam,” tegas Prof Nur.

Mengurangi konsumsi makanan asin menjadi langkah sederhana namun efektif untuk menekan risiko gangguan ginjal jangka panjang.

Kedua, terlalu sering mengonsumsi makanan dan minuman manis. Asupan gula yang tinggi dapat meningkatkan risiko obesitas serta diabetes. Kedua kondisi ini menjadi penyumbang terbesar kasus gagal ginjal di Indonesia.

“Biar nggak diabetes, ya hidup sehat. Jangan gendut, jangan seneng manis, jangan makan karbohidrat berlebihan,” kata Prof Nur.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga pola hidup sehat dengan cukup minum air putih dan rutin berolahraga agar metabolisme tubuh tetap seimbang.

Ketiga, mengabaikan infeksi. Dalam sejumlah kasus, infeksi yang tidak segera ditangani dapat merusak ginjal baik secara akut maupun kronis. Infeksi yang awalnya ringan, seperti infeksi saluran kemih (ISK), berpotensi menimbulkan komplikasi serius jika dibiarkan tanpa penanganan medis.

Pada kondisi berat, infeksi dapat berkembang menjadi sepsis yang mengancam organ vital, termasuk ginjal.

“Kalau infeksi, begitu adalah keluhan demam segala macam datanglah ke dokter supaya diobatin dengan betul,” ujar Prof Nur.

Pentingnya Deteksi Dini
Ginjal memiliki peran vital dalam menyaring limbah metabolisme dan cairan berlebih dari darah. Namun kerusakan ginjal sering berlangsung tanpa gejala pada tahap awal, sehingga banyak pasien baru menyadarinya ketika kondisi sudah memasuki tahap berat.

Karena itu, pemeriksaan kesehatan secara rutin sangat dianjurkan, terutama bagi penderita diabetes, hipertensi, maupun mereka yang memiliki riwayat penyakit metabolik dalam keluarga.

Meningkatnya kasus gagal ginjal pada usia muda menjadi peringatan serius bahwa pola hidup sehat bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan mendesak untuk mencegah kerusakan ginjal permanen yang berujung pada ketergantungan cuci darah seumur hidup.(Red)

Post Top Ad