PROBOLINGGO, Saksimata.my.id – Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Kabupaten Probolinggo bersama Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Provinsi Jawa Timur memperkuat upaya pencegahan food loss dan food waste melalui pelatihan pengolahan pangan berbasis zero waste yang digelar di ruang PRIC Mal Pelayanan Publik (MPP) Kabupaten Probolinggo, Selasa (19/5/2026).
Kegiatan tersebut melibatkan berbagai pemangku kepentingan, di antaranya Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas Sosial, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), perhimpunan hotel, perhimpunan restoran, TP PKK Kabupaten Probolinggo hingga Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Probolinggo.
Pelatihan menghadirkan Kepala Bidang Penanganan Kerawanan Pangan DKP Kabupaten Probolinggo Nurul Komaril Asri, Pengelola Data dan Informasi DPKP Provinsi Jawa Timur Ifa Fachmawati, perwakilan Garda Pangan Surabaya, serta guru SMKN 2 Kraksaan Anis Fauziyah sebagai narasumber.
Selain pemaparan materi, peserta juga mendapatkan praktik langsung pengolahan pangan dengan konsep zero waste. Sejumlah limbah pangan yang selama ini kerap terbuang diperkenalkan sebagai bahan baku alternatif untuk menghasilkan produk bernilai tambah, seperti mie tinggi serat, kaldu hingga selai.
Kepala Bidang Penanganan Kerawanan Pangan DKP Kabupaten Probolinggo, Nurul Komaril Asri, menegaskan persoalan food loss dan food waste masih menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian serius. Di satu sisi masih terjadi pemborosan pangan, sementara di sisi lain terdapat masyarakat yang membutuhkan akses pangan yang memadai.
“Pangan ini menjadi tanggung jawab bersama, bukan hanya pemerintah tetapi juga masyarakat. Karena pangan juga untuk menjamin generasi ke depan agar tetap berkelanjutan,” kata Nurul.
Menurut Nurul, food loss umumnya terjadi pada bahan pangan mentah akibat penanganan yang kurang tepat saat proses panen, penyimpanan maupun distribusi. Sementara food waste berasal dari makanan siap konsumsi yang tidak dihabiskan dan akhirnya dibuang.
Ia mengajak masyarakat untuk menerapkan pola konsumsi yang lebih bijak dengan mengambil makanan sesuai kebutuhan dan menghindari pemborosan pangan.
“Ketika mengambil makanan secukupnya dan menghabiskan isi piring, itu sudah menjadi langkah sederhana menyelamatkan pangan. Kalau masih ada makanan layak konsumsi yang tidak dimakan, sebaiknya segera didonasikan kepada yang membutuhkan,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Nurul juga mengingatkan adanya Surat Edaran Bupati Probolinggo mengenai gerakan penyelamatan pangan yang mendorong masyarakat menerapkan pola konsumsi bertanggung jawab melalui kampanye mengurangi pemborosan dan memperluas kegiatan berbagi pangan.
Lebih lanjut, Nurul menekankan pentingnya perbaikan penanganan hasil panen dan bahan pangan di sepanjang rantai distribusi guna mengurangi potensi kerusakan yang berujung pada kehilangan pangan.
“Kadang hasil panen sebenarnya masih bagus, tetapi karena salah penanganan akhirnya menjadi busuk dan tidak bisa dikonsumsi. Ini harus menjadi perhatian bersama agar kehilangan pangan bisa ditekan,” tegasnya.
Sementara itu, Pengelola Data dan Informasi DPKP Provinsi Jawa Timur, Ifa Fachmawati, menyampaikan bahwa pelatihan serupa dilaksanakan di tiga daerah, yakni Kabupaten Probolinggo, Kota Probolinggo dan Kota Malang sebagai bagian dari sosialisasi gerakan penyelamatan pangan.
“Kegiatan ini juga menjadi bentuk sosialisasi gerakan selamatkan pangan, karena belum semua daerah memahami betapa pentingnya upaya penyelamatan pangan,” ungkap Ifa.
Menurut Ifa, kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk pegiat pangan dan SPPG, menjadi langkah strategis untuk memperkuat pemanfaatan hasil pangan agar lebih optimal dan bernilai ekonomi.
“SPPG sangat berperan bagaimana hasil yang sudah diolah itu benar-benar dimanfaatkan ataupun didaur ulang. Harapannya, sisa yang selama ini terbuang bisa kembali dimanfaatkan,” ujarnya.
Peserta pelatihan juga mendapatkan pemahaman mengenai pemanfaatan limbah pangan seperti sayuran dan kulit buah naga yang dapat diolah menjadi produk bernilai tambah dan berpotensi meningkatkan pendapatan masyarakat.
“Harapannya nanti ada bahan yang biasanya dibuang seperti sayuran maupun kulit buah naga bisa diolah menjadi produk bernilai tambah sehingga meningkatkan nilai ekonomi,” tambahnya.
Melalui pelatihan tersebut, pemerintah daerah dan pemerintah provinsi berharap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya penyelamatan pangan semakin meningkat sekaligus memperkuat sinergi antarinstansi dalam mendukung ketahanan pangan yang berkelanjutan.
“Kami berharap pelatihan ini bisa menjembatani antara pelaku di lapangan, pengambil kebijakan hingga instansi terkait dalam menyikapi penyelamatan food loss dan food waste,” pungkasnya.
(Ma'at S)
