Baluran, Afrika van Java Berstatus Cagar Biosfer

Taman Nasional Baluran di ujung timur Pulau Jawa tak sekadar destinasi wisata alam. Kawasan konservasi yang dijuluki Africa van Java ini kini menyandang status bergengsi sebagai Cagar Biosfer Dunia UNESCO

 

BANYUWANGI, Saksimata.my.idTaman Nasional Baluran di ujung timur Pulau Jawa tak sekadar destinasi wisata alam. Kawasan konservasi yang dijuluki Africa van Java ini kini menyandang status bergengsi sebagai Cagar Biosfer Dunia UNESCO.

Julukan tersebut lahir dari bentang alam Baluran yang unik: savana luas, kering, dan eksotis, berpadu dengan kekayaan flora serta fauna khas. Lanskap ini menjadikan Baluran berbeda dari taman nasional lain di Indonesia.

Pengakuan internasional datang pada 2018, saat Taman Nasional Baluran ditetapkan sebagai Cagar Biosfer Dunia dalam Sidang International Coordinating Council (ICC) Program Man and the Biosphere (MAB) UNESCO ke-30 di Palembang. Status ini menegaskan peran Baluran dalam menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus mendorong pembangunan berkelanjutan.

Penetapan tersebut mencakup zona inti taman nasional, zona penyangga, hingga zona transisi. UNESCO menilai Baluran memiliki ekosistem yang lengkap dan khas, mulai Savana Bekol yang ikonik, hutan musim, hutan pantai, hingga mangrove pesisir.

Baluran juga dinilai berhasil memadukan konservasi keanekaragaman hayati dengan peran aktif masyarakat lokal. Perlindungan Banteng Jawa sebagai satwa kunci, serta pelestarian satwa endemik lainnya, menjadi poin utama penilaian UNESCO.

Secara historis, Baluran memiliki perjalanan panjang. Kawasan ini mulai dicadangkan pada 1920, ditetapkan sebagai hutan lindung pada 1930, suaka margasatwa pada 1937, hingga akhirnya resmi menjadi Taman Nasional Baluran pada 1980. Penetapan itu menegaskan posisi Baluran sebagai kawasan konservasi strategis nasional.

Daya tarik utama Baluran terletak pada Savana Bekol. Hamparan padang rumput luas yang menguning saat kemarau menghadirkan sensasi layaknya Afrika. Di kawasan ini, wisatawan dapat mengamati Banteng Jawa, rusa, kerbau liar, hingga beragam spesies burung dari menara pandang.

Gunung Baluran, gunung api mati yang mendominasi kawasan, menambah keindahan lanskap sekaligus menjadi habitat flora dan fauna di berbagai ketinggian. Di pesisir, Pantai Bama menawarkan wisata bahari, snorkeling, serta jalur kayu di tengah hutan mangrove.

Keanekaragaman hayati Baluran mencakup ratusan spesies flora dan fauna. Selain Banteng Jawa, kawasan ini menjadi habitat Ajag, Macan Tutul Jawa, serta burung endemik dan migran. Hutan mangrove di pesisir berperan penting melindungi pantai dan menopang ekosistem laut.

Beragam aktivitas ekowisata dapat dinikmati, mulai observasi satwa liar, jelajah Savana Bekol, hingga menyusuri Evergreen Forest yang tetap hijau meski kemarau. Kontras savana kering dan hutan hijau menjadi pengalaman khas Baluran.

Dengan status Cagar Biosfer Dunia UNESCO, Baluran bukan sekadar destinasi wisata, melainkan simbol pentingnya harmoni antara pelestarian alam dan kesejahteraan masyarakat. Sebuah laboratorium alam hidup yang menegaskan bahwa konservasi dan pariwisata dapat berjalan beriringan.(Red)

Alt/Text Gambar
Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak