PROBOLINGGO, Saksimata.my.id — Sekolah-sekolah di wilayah pegunungan Kabupaten Probolinggo membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk pendidikan berkualitas. Penerapan pembelajaran kelas rangkap (multigrade) yang dipadukan dengan metode berdiferensiasi berhasil meningkatkan literasi dan numerasi siswa secara signifikan, terutama di SD dengan jumlah murid terbatas.
SDN Sariwani II Kecamatan Sukapura menjadi contoh praktik multigrade sukses. Sekolah ini mendapat kunjungan Wakil Duta Besar Australia untuk Indonesia Gita Kamath, Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen RI Suharti, dan Deputi Bidang Pembangunan Manusia Bappenas Pungkas Bahjuri Ali, Jumat (30/1/2026), untuk meninjau langsung implementasi pembelajaran kelas rangkap di daerah terpencil.
Plt Kepala SDN Sariwani II, Sumardi, menyatakan capaian literasi meningkat dari 83,33 pada 2024 menjadi 100 pada 2025, sementara numerasi naik dari 66,67 menjadi 67,17. Ia menekankan keberhasilan ini berkat strategi pembelajaran terencana, pendekatan sesuai kebutuhan siswa, motivasi belajar meningkat, dan peran aktif orang tua.
Kepala Disdikdaya Kabupaten Probolinggo, Hary Tjahjono, menyebut multigrade sebagai solusi strategis bagi sekolah pegunungan dengan keterbatasan guru dan murid. Saat ini, 186 sekolah di Kabupaten Probolinggo telah menerapkan metode ini, termasuk sembilan sekolah di Kecamatan Sukapura.
“Guru dituntut memiliki keterampilan khusus karena mengelola dua kelas sekaligus. Pembelajaran harus terstruktur dan target tercapai tanpa perbedaan perlakuan antar kelas,” jelas Hary.
Keberhasilan ini diakui Kemendikdasmen dan Program INOVASI, bahkan dijadikan rujukan untuk berbagi pengalaman ke daerah lain di Indonesia. Wakil Duta Besar Australia Gita Kamath menilai praktik multigrade di SDN Sariwani II menunjukkan komitmen kuat menghadirkan pendidikan berkualitas di daerah terpencil, didukung Program INOVASI.
Sekjen Kemendikdasmen Suharti menegaskan, pembelajaran kelas rangkap efektif diterapkan meski murid hanya 33 orang dan guru empat orang, dan hasil literasi-numerasi menjadi indikator keberhasilan. Deputi Bappenas Pungkas Bahjuri Ali menambahkan bahwa multigrade merupakan solusi ideal untuk sekolah terpencil dan menekankan pentingnya penguatan digitalisasi untuk memotivasi siswa melanjutkan pendidikan.
(Ma’at S)
