![]() |
| Pelajar Sekolah Rakyat Terintegrasi (SR) 7 Kota Probolinggo, Risky Aulia |
PROBOLINGGO, Saksimata.my.id — Kebanggaan menyelimuti Kota Probolinggo. Risky Aulia, pelajar Sekolah Rakyat Terintegrasi (SR) 7 Kota Probolinggo, tampil memukau saat menyampaikan pidato berbahasa Jepang di hadapan Presiden Prabowo Subianto.
Momen bersejarah itu terjadi dalam Peresmian 166 Sekolah Rakyat di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Senin (12/1/2026). Risky terpilih sebagai satu dari empat siswa terbaik nasional yang berpidato menggunakan bahasa asing berbeda—Inggris, Arab, Mandarin, dan Jepang.
Prestasi Risky kian menggetarkan karena ia berasal dari keluarga sederhana. Anak seorang buruh cuci, siswa kelas X berusia 13 tahun ini berdiri penuh percaya diri di depan kepala negara, membuktikan bahwa latar belakang ekonomi bukan batasan prestasi.
Di sekolah, Risky dikenal ceria dan kerap menularkan kemampuan bahasa Jepang kepada teman-temannya. Minatnya tumbuh sejak kelas V SD, berawal dari kegemaran menonton anime.
“Belajar dari aplikasi dan les privat sekitar 10 hari. Saya memang suka bahasa Jepang sejak kecil,” ujar Risky, Rabu (14/1/2026).
Kebanggaan itu berlipat ketika Risky sempat berbincang langsung dengan Presiden Prabowo seusai acara. Ia bahkan mendapat janji liburan ke luar negeri, dengan Jepang—tepatnya Shibuya—sebagai destinasi impiannya.
Dukungan penuh datang dari sekolah. Kepala SR Terintegrasi 7 Kota Probolinggo, Susilowati, menyebut capaian Risky sebagai prestasi luar biasa.
“Dalam waktu enam bulan sejak sekolah berdiri, siswa kami sudah mampu berpidato bahasa Jepang di depan Presiden. Ini pencapaian yang membanggakan,” ujarnya.
Menurut Susilowati, bakat Risky telah terlihat sejak awal. Sekolah kemudian memfasilitasi kursus bahasa Jepang dan mempersiapkannya tampil di panggung nasional.
Kisah Risky Aulia menjadi penegasan kuat bahwa keterbatasan bukan penghalang. Dengan tekad, kerja keras, dan dukungan lingkungan, mimpi besar dapat diraih siapa pun. (Red)
